Tunggu aku, di Juanda

Katamu;
Panas terik mentari membakar atap.
Bising kendaraan laju menderap.
Di sela-sela kepalaku, wajahmu menyeruak.
Rindu merekah di antara gedung menjulang.
Menantimu, di angan yang entah.

Katamu;
Peluk aku dalam bayang-bayang.
Telah berkali-kali bunga bermekaran.
Sunyi menanti setiap kepulangan.
Hujan tak lagi senyaman pelukan.
Angin tak lagi semacam bisikan.
Kasih, coba dengarkan !.

Dan, aku pun tak sesering angin lewat, tak seiring bunyi pesawat.

Aku menantimu jua.
Meski jarak membentang, sungguh, aku masih menanti waktu merentang.

Di jendela sayap Sriwijaya, tunggu aku di Juanda.

By Angin Pendiam

Sajak

Kupikir masih terlalu muda jika kuajari kesedihanku tertawa. Karena luka baru saja lahir dari air mata.

By Angin Pendiam

Sajak : Demi Waktu

Demi waktu yang laju.

Aku mencintaimu laksana masa lalu.

Yang tak pernah bisa dihapus Tuhanku.

Sekalipun nalarmu, di atas khayalku.

By Angin Pendiam

Kumbang di kamar mandi

Ada apa dengan kumbang di kamar mandi?
Apa sudah tiada bunga lagi hendak kauhinggapi.

Ingin kutanya di suatu negeri.
Yang temboknya menjulang tinggi.

Masih saja tiada bunga di potku ini.
Hingga kumbang lupa diri.
Menyepi di atas sabun wangi.

Kumbang kini bukan lagi pangeran taman.
Sejak tuan membeli mawar dengan sedan.

O Tuhanku, yang maha taman, dan segala yang mengindahkan.

By Angin Pendiam

Bayang bayang sunyi

Kala bayangmu datang kemari.
Mencoba tuk mengacau puisi ;
Sila kau tutupi mata pena ini.
Puisi tetap kutulis dengan hati.

Ia datang lagi membawa janji.
Mencoba menyentuh hati ;
Sila kau kelabui hati ini.
Puisi tetap akan kutulis dengan hati-hati.

Tak tahan dengan semua ini.
Bayangmu dengan sebilah belati ;
Sila kau bunuh hati ini.
Puisi tetap kutulis sebelum mati.

Sedih? Atau kau nikmati semua ini.
Setelah aku mati, kau akan tahu.
Puisi kutulis sekadar mengusir sepi.
Sebab bayangmu yang sunyi.

By Angin Pendiam

Terjebak hujan selatan

» Gemuruh angin menerpa sunyi halte.
Aku sendirian, di tengah keramaian hujan.
Pohon jerit tak kuasa menahan hunjam.

Semakin deras angin menerjang.
Dari ufuk kilat melukis siang.

Tak berarti satu degupan. Sebab di hati berjuta hantaman.
Menantimu di tengah hujan.

Katamu kau datang dari selatan, bersama rintik jatuhnya hujan.

Biarlah aku terjebak penantian. Menantimu dari selatan.

By Angin Pendiam

wajah asing yang kukenal

Di malam tanpa gemintang
Wajah nian asing mula-mula
datang
Menghampiriku dari rimbun
kegelapan

Mata merah menyala mulai
terbayang-bayang
Seakan-akan ingin menghunus
serupa pedang

Raut wajahnya seolah menghadang
sejauh mata memandang
Bulu kuduk sedikit bergoyang
dan kutahu ini yang disebut
ketakutan

Nyali yang kupintal, serasa telah
tertelan ludah di tenggorokan
Sepatah kata pun ku jelang tanpa
bimbang
“Eh abang, ronda malam bang?”

By Angin Pendiam

Celoteh kampung halaman

Ingatkah kawan, saat masih belia.
Kita berlarian mengejar senja di ladang paman.
Lalu kau jatuh terlentang.
Aku tertawa kegirangan.
Air mata menderas oleh luka, aku tertawa bahagia.

Sedang mereka para petua heran.
Kita bagai kucing dan macan.

Lalu apa kita telah lupa, nyanyian pinggir jalan.
Saat kita setinggi pohon jagung.
Kau lantang berseru menang.
Kita melawan kesepian.

Siang saat pemimpi belajar.
Malam itu nyata di hadapan.
Orang bilang. Kitalah hansip tak di bayar.
Namun juga maling kampungan.

Penumpang gelap diselasar malam.
Mentari terbit kala gelap.
Kidung pedesaan di tepian jalan.

Apa kita telah lupa.
Saat kupu-kupu mengalir diantara senar gitar.
Akulah pendenting. Sedang kau pendendang.

Kita, lewati malam setapak dengan barisan memanjang.

Kau, dia, aku dan mereka, ujung pena sang tuhan.
Menggores kisah pedalaman.

Melukis malam dengan teriakan.
Basah kuyup orang tak senang.
Kita masih tertawa oleh luka lebam, di hantam waktu yang kencang.
Kita, tak ada habisnya diulas.
Kita sampai kesekian.

By Angin Pendiam