Surat untuk Ibu

Untukmu Ibu
Kalau aku tak sampai waktu
Mengecup telapak kakimu
Barangkali, waktu telah menyibukkanku

Untukmu Ibu
Kalau aku tak sempat rindu
Mengenang senyummu yang surga itu
Barangkali, rindu tak di sampingku

Engkau Ibu
Cahaya terang di hatiku
Namun kini
Hatiku digelapkan masa baru

Maafkan jikalau kabar tak singgah di berandamu
Maafkan jikalau kaki-kaki ini enggan menapak halamanmu

Aku tak hendak melupakanmu
Waktu begitu erat memeluk nasibku

Hujan begitu deras saat kutulis ini, Ibu
Rintiknya perlahan terasing oleh air mataku
Betapa akupun merinduimu
Betapa akupun mencintaimu

Dingin menggigilkan makan malamku
Bersama kerinduan akan canda tawamu
Aku menyadari itu
Aku tak lebih hidup tanpa doamu

Engkau Ibu
Cahaya terang di hatiku
Namun kini
Hatiku digelapkan masa baru

Terimalah maaf dan doaku ini
Sebagai jalanku, sebagai napasku

Lampung, 25-04-2014

By Angin Pendiam

Kota dan Desa

Anak angin dari desa
Tumbuh dari hijau persawahan
Menyeruak di antara pepohonan
Hinggap di bambu anyaman
Lalu tenggelam dalam kesunyian

Anak angin dari kota
Tumbuh dari pot bunga
Menyeruak di antara gedung menjulang
Hinggap di tembok beton
Lalu hening dalam keramaian

Hijrah dari kota ke desa
Anak angin tinggal di gubuk bambu
Menyepi di hidung para petani
Tersesat di hutan belantara

Hijrah dari desa ke kota
Anak angin tinggal di kaca apartemen
Menyepi di hidung orang kaya
Tersesat di pabrik pabrik pengusaha

Lalu anak-anak angin bertemu
Di pinggiran kota
Di perbatasan desa
Saling bercerita
Perihal anak-anak manusia
Bermimpi tentang keduanya
Desa dan kota

Lampung, 21-04-2014

By Angin Pendiam

Duhai Hasan Junus

Tanah ini kering

serupa lumut, pada bebatuan kemarau

tak ada lagi karya

mata air budaya

Sewindu tak berkabar

rindu angan menerka

mengenang

yang telah ada

Engkau, Hasan Junus

Lahir ke tanah sastra

bagai hujan dari semesta

Di kedua tanganmu

bibit puisi merekah

serupa bunga dalam kata-kata

Engkau menjelma tangan pena

menyeka kening jelaga

memberi makan bocah-bocah aksara

Dan waktu

berlari bagai rindu

meski berkali-kali menahan pilu

waktu enggan memelihara napasmu

Detik-detik telah kautuliskan

pada lembar lembar masa depan

Kini, karyamu telah dikenang bangsa

meski ragamu ada di sisinya

Aku

hanya satu dari beribu pengagummu

Duhai Hasan Junus.

#MengenangHJ

Lampung, 11-04-2014

By Angin Pendiam

Selamat Pagi

Seperti adukan kopi, setiap pagi dua ekor kenari menyanyi riang dalam angan, satu sangkar indah dalam hati, menanggal sepi yang diciptakan hari.

Setiap pagi, seorang membasuh kening mentari, menengadah pada langit, jatuh puluhan bidadari berbayang mimpi.

Setiap pagi, bunga dibiarkan mengembang, rumput liar menangisi nasib, tiada segera datang.

Sembari menulis kata-kata, hendak mengisi pagi yang didudukkan di ruang tamu kita.

Selamat pagi semoga hari. ^^

Lampung, 11-04-2014

By Angin Pendiam