Insomnia

Sekadar tulisan curhat :))

Adakah aku bisa membunuh insomnia ini, segala yang membuatku terdiam sendiri, waktu di saat detak jam terasa sepi-sunyi, lalu aku tak lagi mengingat-ingat luka dari kerasnya hidup ini, dari apa-apa yang pernah membuat aku menyimpan memori sakit yang teramat perih.

Aku mendengar lagu di saat sendiri, aku mengira cukup untuk mengganti teman sepi, namun aku tetap tak mengerti, padahal seseorang pernah berkata setiap lagu menyimpan memori.

Aku masih mendengarnya, lagu yang membuatku mengingat perih.

Ini bukan perihal cinta atau apalah yang biasa-anak-muda-rasakan, ini tentang jalan hidup yang keras, aku pernah menulisnya: bersikap dewasapun tak membuat hati yang masih muda ini kuat dari kerasnya hidup.

Aku merasakan hal-hal yang kebanyakan-orang-dewasa-rasakan, dan itu membuatku sakit, meski seakan badai yang berlalu, namun perih pernah kurasakan; dan aku ingat.

Di akhir dari perkataan perkataan bodohku ini; semoga ada kebahagiaan lain yang membuatku lupa akan segala perih dahulu, hingga aku bisa membunuh sepi dalam pikiranku ini.

By Angin Pendiam

untuk Kirana bag. 1

Surat pertama:

Selalu, dan selalu kutulis dalam puisiku. Musim sepertiga malam, yang padanya doaku menjulang di atas Arsy-Nya

Doa yang kuiringi dengan hati terbuka, semoga dengan kamu membacanya, hatimu akan merasa bahagia.

By Angin Pendiam

Rapuh Usia

Menyulam sisi rapuh di sisa usiaku

dengan pintalan doa

sebagai benang yg regas terbata-bata

Menutup celah agar jiwaku tak segera melepas.

jemariku berdarah-darah menahan tusukan

jarum yang ku hujamkan sendiri,

mengibaku

meminta detik untuk denyutkan nadiku

lebih lama.

~ Kirana Kyashana

Ciamis, 08 – 01 – 15

By Angin Pendiam

Tak Mudah Merindu

Kubayangkan,

Setiap malam kau merindu

Tiap tetesan angin membuatmu makin pilu

Dingin, dingin, dan dingin

Tak ada yang membuatmu lebih hangat,

selain puisi-puisi cinta Khalil Gibran

Dan membacanya, membuat tubuhmu terbakar

Oh.. jarak adalah tajam pisau

Menyayat, merenggut, yang perlahan membunuhmu

Membebaskan dari rindulah,
sebenar-benarnya bahagia

Lalu cinta, memilih takdirnya untuk berpisah

Jember, 05 – 01 – 15

By Angin Pendiam