Insomnia ~ Flashfiction

Bekerja terlalu larut membuat Adi begitu tersiksa. Matanya mulai terlihat kehitaman. Sudah seminggu ia tidak tidur. Ia merasa pekerjaan ini terlalu berat baginya. Sesekali ia mencoba memejamkan mata. Tak lama ia memejam, suara jeritan manusia terdengar keras di telinganya, seperti sebuah bencana. Adi mulai merinding. Ia mencoba untuk tidak tertidur. Ia mencoba untuk terus terjaga. Memerhatikan sesuatu.
Terkadang ia merasa tak sanggup dengan tugas barunya itu, ia mulai menyadari betapa berat menjadi seperti-Nya.

Jember, 21 Mei 2015

By Angin Pendiam

Jatuh Cinta ~ FlashFiction

Budi yang usianya lebih tua Tujuh tahun dari Mira benar-benar yakin bahwa Mira-lah jodoh yang selama ini ia cari. Budi yang berusia 23 tahun dan Mira berusia 16 tahun.
Ia bertemu Mira tak begitu lama, baru semenit setelah berkenalan di halte bis ia sudah jatuh cinta.
Rencananya malam ini ia akan segera melamar Mira. Keputusan Budi begitu bulat, dan ia benar-benar yakin malam ini.
Setelah Budi mengantar Mira ke rumahnya, dengan membawa bunga dan jajanan seadanya. Ia berbicara kepada Ayah Mira. Ia ingin segera menikahi Mira. Namun Ayahnya tak menerima, ia beranggapan bahwa Mira terlalu muda untuk dinikahi. Pernyataan itu membuat Budi sangat kecewa. Ia tak dapat berbicara apa-apa lagi. Jantungnya berdetak begitu cepat. Seketika pandangan Budi kabur, seperti gelap tiba-tiba. Kemudian ia tersentak, mendapati dirinya dengan selimut dan wanita tua di sampingnya sedang tertidur pulas.

Jember, 20 Mei 2015

By Angin Pendiam

Amarah ~ FlashFiction

Suasana hening setelah Ayah bertengkar dengan Ibu. Aku duduk terdiam di kamar mendengar kesunyiannya begitu lebat. Lima menit setelah kejadian, Ayah pergi ke kamar mandi. Suara percikan air berulangkali terdengar. Cukup lama Ayah berdiam di sana, mungkin ia sedang meredakan amarahnya. Setelah itu Ayah keluar dengan wajah puas. Lalu menutup rapat pintunya.

Dua jam lamanya. Tidak ada yang berbicara di ruangan ini selama itu. Kudengar lirih-lirih suara di arah kamar mandi. Kudekati perlahan, kubuka pintu yang tertutup rapat itu. Kulihat seseorang, yang tak kukenal; terikat tubuhnya di dalam bak, tanduk dan ekornya patah.

Jember, 19 Mei 2015

By Angin Pendiam

Untuk Kirana bag. 2

Di pagi yang cemara bergegas menangkap mentari
Terlintas sebutir ingatan senyummu menari
Erat genggam ia tak lepas
Inginku berlama-lama hanyut tak lekas
Senyum itu menyala terang
Seperti sebuah siang; aku dapat melihatmu utuh tak terhalang
Di rindang pohon jalan menanti diriku datang.

Jember, 15 Mei 2015

By Angin Pendiam