Amarah ~ FlashFiction

Suasana hening setelah Ayah bertengkar dengan Ibu. Aku duduk terdiam di kamar mendengar kesunyiannya begitu lebat. Lima menit setelah kejadian, Ayah pergi ke kamar mandi. Suara percikan air berulangkali terdengar. Cukup lama Ayah berdiam di sana, mungkin ia sedang meredakan amarahnya. Setelah itu Ayah keluar dengan wajah puas. Lalu menutup rapat pintunya.

Dua jam lamanya. Tidak ada yang berbicara di ruangan ini selama itu. Kudengar lirih-lirih suara di arah kamar mandi. Kudekati perlahan, kubuka pintu yang tertutup rapat itu. Kulihat seseorang, yang tak kukenal; terikat tubuhnya di dalam bak, tanduk dan ekornya patah.

Jember, 19 Mei 2015

By Angin Pendiam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s