Tak Mudah Merindu

Kubayangkan,

Setiap malam kau merindu

Tiap tetesan angin membuatmu makin pilu

Dingin, dingin, dan dingin

Tak ada yang membuatmu lebih hangat,

selain puisi-puisi cinta Khalil Gibran

Dan membacanya, membuat tubuhmu terbakar

Oh.. jarak adalah tajam pisau

Menyayat, merenggut, yang perlahan membunuhmu

Membebaskan dari rindulah,
sebenar-benarnya bahagia

Lalu cinta, memilih takdirnya untuk berpisah

Jember, 05 – 01 – 15

By Angin Pendiam

Lupa subuh

Malam sebelum mati

Dingin memenuhi seisi ruang pada sendi-sendi

Lalu selimut ialah cuaca gugur sakura

Kubayangkan, pagi datang lebih lambat dari jam kerja

Lebih lama

Tubuh ini rebah

Kurasakan mati itu lebih lama

Hingga ditiupkan kembali ruhku oleh fajar

Oleh suara yang tak asing

Terdengar seperti nyanyian bising

Embun terlalu dingin tuk beranjak

Segera kubunuh diri

Lalu merapatkan waktu di pelupuk mataku

Tak peduli dengan pagi, kuingin tidur kembali

Jember, 28 November 2014

By Angin Pendiam

Ucapan selamat ulang tahun, untuk Agung July

Bukan terlambat namanya, meski pesta telah usai. Ini masih July kan? Iya.

*) Aku ini, Jul, bukan seseorang yang keluar dari mulutnya sebuah puisi indah, kebanyakan hanya kata-kata percuma.
Namun di dalam tulisan yang sangat sederhana ini, tersemat beberapa doaku.
Agar kebahagiaanmu, menjadi angin yang selalu diam di sisimu.

*) Hanya beberapa kata.

1) Tentang kelahiran, tentang apa saja yang berkaitan dengan hidup.

2) Seperti lilin yang masih menyala, di dalam kata.
Berjajar duapuluhsatu usiamu.
Lalu doa-doa, yang menantimu meniup lilin.

3) Berbahagialah, sebab di dalam kata, kau memiliki segalanya.
Harapan, juga apa saja yang berhak jadi nyata.

4) Kebahagiaan yang menanti di ujung malam, setelah kautiup lilinnya.
Biarkan angin, yang berdiam di sisimu, mengantar detak-detak lamban waktu.

Kau menghitung dalam hatimu, sudah berapa kali kesempatan kaulewati, atau mungkin berapa kali kaudapatkan kesempatan itu.
Kau butuh waktu, yang lebih panjang dari rindumu– juga kesepianmu.
Kesempatan, untuk jatuh cinta. Juga kesempatan, untuk bahagia.

5) ada Fiksimini :
ULANG TAHUN.
Kubingkis rapi kado buatnya, sebuah arloji yang masih berdetak. Di dalamnya, ada waktu yang lebih lama. Untuk hidup.

6) Selamat Ulang Tahun, Jul.
Kawan yang kutemukan di belantara maya, semoga waktu mempertemukan kita,sebagai yang nyata.

-) Untuk → Agung July : @_julst

Dari Andi Putra @TersipuMalu_

Lampung, 21-07-14

By Angin Pendiam

Perahu

Ada diam di kedua matamu
Seperti lelah yang berpendar
Menyinari setiap peluhmu

Aku mendengar, setiap keluh yang terpanjat
Dari lipatan kedua bibirmu

Bedukalah, sebab pada apa lagi harus menangis
Di laut ini:
Hujan tak lagi jatuh seperti halnya
Ia hanya dijatuhkan pada mata-mata yang sayu
Yang padanya tertancap bilah-bilah kayu
Diisyaratkan bagimu sembilu

Dan pada punggungmu
Waktu menjelma sebuah perahu
Melintasi bahu-bahu yang tertimpa udara
Lalu ditempa pada deretan bongkah batu

Kau menjerit, dalam sebuah lingkaran
Ia menyuruhmu duduk di tepian
Menerka setiap yang jatuh menjelma tiada

Tiga belas ikan kecil melompat ke perahumu
Di bahu, juga pada tetesan peluhmu
“Bukankah ini rejeki” katamu
Sambil menguras perahu yang dipenuhi air asin

Di sebuah arus yang membentuk lingkaran
Engkau makin terseret ke dalam
Tak peduli ia membawamu pada bongkah batu tadi
Kedua matamu sibuk memunguti ikan-ikan yang jatuh

Ialah setiap hidup
Nyatanya apa yang kaudapat hanya mengurangi usiamu
Seperti kolam yang tak pernah dihujani

Kau makin gamang
Memandangi air yang semakin penuh

Pada bahu kanan dan kirimu
Seorang sunyi mencatat tiap hujat yang kauumpat
Meringkasnya menjadi lembar-lembar maut
Yang menunggumu di ujung laut

Engkau seorang kelasi
Pada sebuah perahu di bahumu sendiri

Lampung – 23 may 2014

By Angin Pendiam

Surat untuk Ibu

Untukmu Ibu
Kalau aku tak sampai waktu
Mengecup telapak kakimu
Barangkali, waktu telah menyibukkanku

Untukmu Ibu
Kalau aku tak sempat rindu
Mengenang senyummu yang surga itu
Barangkali, rindu tak di sampingku

Engkau Ibu
Cahaya terang di hatiku
Namun kini
Hatiku digelapkan masa baru

Maafkan jikalau kabar tak singgah di berandamu
Maafkan jikalau kaki-kaki ini enggan menapak halamanmu

Aku tak hendak melupakanmu
Waktu begitu erat memeluk nasibku

Hujan begitu deras saat kutulis ini, Ibu
Rintiknya perlahan terasing oleh air mataku
Betapa akupun merinduimu
Betapa akupun mencintaimu

Dingin menggigilkan makan malamku
Bersama kerinduan akan canda tawamu
Aku menyadari itu
Aku tak lebih hidup tanpa doamu

Engkau Ibu
Cahaya terang di hatiku
Namun kini
Hatiku digelapkan masa baru

Terimalah maaf dan doaku ini
Sebagai jalanku, sebagai napasku

Lampung, 25-04-2014

By Angin Pendiam

Kota dan Desa

Anak angin dari desa
Tumbuh dari hijau persawahan
Menyeruak di antara pepohonan
Hinggap di bambu anyaman
Lalu tenggelam dalam kesunyian

Anak angin dari kota
Tumbuh dari pot bunga
Menyeruak di antara gedung menjulang
Hinggap di tembok beton
Lalu hening dalam keramaian

Hijrah dari kota ke desa
Anak angin tinggal di gubuk bambu
Menyepi di hidung para petani
Tersesat di hutan belantara

Hijrah dari desa ke kota
Anak angin tinggal di kaca apartemen
Menyepi di hidung orang kaya
Tersesat di pabrik pabrik pengusaha

Lalu anak-anak angin bertemu
Di pinggiran kota
Di perbatasan desa
Saling bercerita
Perihal anak-anak manusia
Bermimpi tentang keduanya
Desa dan kota

Lampung, 21-04-2014

By Angin Pendiam

Duhai Hasan Junus

Tanah ini kering

serupa lumut, pada bebatuan kemarau

tak ada lagi karya

mata air budaya

Sewindu tak berkabar

rindu angan menerka

mengenang

yang telah ada

Engkau, Hasan Junus

Lahir ke tanah sastra

bagai hujan dari semesta

Di kedua tanganmu

bibit puisi merekah

serupa bunga dalam kata-kata

Engkau menjelma tangan pena

menyeka kening jelaga

memberi makan bocah-bocah aksara

Dan waktu

berlari bagai rindu

meski berkali-kali menahan pilu

waktu enggan memelihara napasmu

Detik-detik telah kautuliskan

pada lembar lembar masa depan

Kini, karyamu telah dikenang bangsa

meski ragamu ada di sisinya

Aku

hanya satu dari beribu pengagummu

Duhai Hasan Junus.

#MengenangHJ

Lampung, 11-04-2014

By Angin Pendiam

Selamat Pagi

Seperti adukan kopi, setiap pagi dua ekor kenari menyanyi riang dalam angan, satu sangkar indah dalam hati, menanggal sepi yang diciptakan hari.

Setiap pagi, seorang membasuh kening mentari, menengadah pada langit, jatuh puluhan bidadari berbayang mimpi.

Setiap pagi, bunga dibiarkan mengembang, rumput liar menangisi nasib, tiada segera datang.

Sembari menulis kata-kata, hendak mengisi pagi yang didudukkan di ruang tamu kita.

Selamat pagi semoga hari. ^^

Lampung, 11-04-2014

By Angin Pendiam

Tunggu aku, di Juanda

Katamu;
Panas terik mentari membakar atap.
Bising kendaraan laju menderap.
Di sela-sela kepalaku, wajahmu menyeruak.
Rindu merekah di antara gedung menjulang.
Menantimu, di angan yang entah.

Katamu;
Peluk aku dalam bayang-bayang.
Telah berkali-kali bunga bermekaran.
Sunyi menanti setiap kepulangan.
Hujan tak lagi senyaman pelukan.
Angin tak lagi semacam bisikan.
Kasih, coba dengarkan !.

Dan, aku pun tak sesering angin lewat, tak seiring bunyi pesawat.

Aku menantimu jua.
Meski jarak membentang, sungguh, aku masih menanti waktu merentang.

Di jendela sayap Sriwijaya, tunggu aku di Juanda.

By Angin Pendiam

Sajak

Kupikir masih terlalu muda jika kuajari kesedihanku tertawa. Karena luka baru saja lahir dari air mata.

By Angin Pendiam